Page 9

Destinasi

Ancol, Ujung Pertemuan Budak Jambi Melancong ke awasan Ancol, wisatawan dapat menikmati paket murah meriah sekaligus wisata bahari, wisata alam, wisata kuliner, juga wisata religi maupun budaya, seperti memandangi atau menunggu bedug di Gentala Arasy dengan rumah-rumah panggung penduduk asli. Teks Danang Prihantoro Foto Rico Mapedeceng

J

AMBI adalah nama kota sekaligus provinsi. Jambi memang tidak setenar kotakota lain yang saat ini populer dengan wisatanya. Namun, dua hari menjajaki kota di pesisir timur bagian tengah Sumatera ini saya menjumpai potensi wisata disana masih tersembunyi. Ancol adalah objek yang saya telusuri. Di benak saya, Ancol hanya dimiliki Jakarta, tetapi Anda perlu tahu bahwa di kota berslogan “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” ini ada juga lokasi yang bernama Ancol. Keduanya sama-sama bercirikan air, bedanya bila Ancol Jakarta itu berhadapan laut, Ancol Jambi berhadapan dengan sungai. Dari kota Jambi ke Ancol cukup ditempuh 10-15 menit dengan berkendara sepeda motor. Wow.... sekitar pukul 16.00 WIB, lokasi ini sudah ramai. Banyak orang, terutama budak

(sebutan anak Jambi) yang sengaja berkumpul, bersantai ke sini atau singgah sebentar pulang kerja. Jalan raya pun seketika macet. Menurut masyarakat sekitar, Ancol Jambi awalnya dikenal sebagai Wisata Tanggo Rajo. Ancol terletak di pusat kota Jambi, persis di pinggir Sungai Batanghari, sebagai kawasan rekreasi buatan. Lokasi wisata ini juga berada di depan rumah dinas gubernur Jambi Jl Sultan Taha, Kecamatan Pasar Jambi. Disebut Tanggo Rajo, karena jalan raya berada di atas, sementara untuk menikmati wisata harus turun tangga, jadi ibarat rajo (raja) sedang turun dari singgasana. Bersantai di sini tidak akan bosan, saya pun terpukau karena setelah turun tangga, sudah ada kursi dan meja kecil yang ditata mengikuti kelokan sungai, tapi bukan sepanjang sungai. Pengunjung dapat menyaksikan langsung hilir mudik ketek (sebutan

orang Jambi untuk perahu yang digunakan untuk penyeberangan). Rasanya tidak puas bila tangan menganggur. Pengunjung pun sibuk selfie, foto bareng dan jeprat-jepret di sekitar Sungai Batanghari yang membelah Jambi. Riuh rendah warga Jambi yang bila berbicara dengan dialek Melayu menambah antusias saya untuk semakin menjelajahi Ancol. “Oh, indah sekali,” gumam saya dalam hati. Guna memastikan lagi, saya berkali-kali bertanya ke budak Jambi, sebenarnya ini namanya apa? Mereka pun satu kata menjawab “Ancol.” Menjelang petang, ternyata banyak pedagang yang menawarkan jajanan. Jadi, selain wisata alam, pengunjung sekaligus dapat berkuliner. Kata seorang teman, bila ke sini tidak mencicipi jajanan khas kurang lengkap. Ya, es tebu adalah minuman utama, walaupun sebenarnya tebu bukan komoditas utama dari provinsi Maret 2015 •

9

Profile for epaper aviasi

Tabloid AVIASI Edisi 80 Maret 2015  

Aviation Is Our Passion

Tabloid AVIASI Edisi 80 Maret 2015  

Aviation Is Our Passion

Advertisement