Page 4

Laporan Utama

Bisnis Lion Amburadul, Melayani Penumpang Tanpa SOP

Kisruh keterlambatan penerbangan Lion Air baru-baru ini menjadi catatan tak sedap bagi bisnis penerbangan di tanah air. Beragam komentar dan kritik tajam dari berbagai kalangan masyarakat terus muncul. Insiden ini telah mengakibatkan ribuan penumpang terlantar dan pihak Lion tidak bisa memberikan penjelasan apakah mereka akan terbang atau tidak

B

ERDASARKAN data yang dihimpun AVIASI dari Kemenhub melalui Dirjen Perhubungan Udara, penyebab kejadian karena ada tiga pesawat rusak pada tanggal 17 Februari sehingga mengganggu 70 rute penerbangan Lion Air. Esoknya tanggal 18 Februari ada tiga pesawat lagi yang rusak. Totalnya ada enam pesawat Lion Air rusak sehingga mengakibatkan terganggunya 140 rute penerbangan. Totalnya sebanyak 567 penerbangan Lion Air terhambat sejak Rabu (18/2) hingga Minggu (22/2). Sebelumnya, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait membantah dugaan ada pilot yang mogok. Ia menjelaskan, kerusakan pesawat menjadi penyebab penundaan dan pembatalan penerbangan. Dalam hal itu, pihak Kementerian Perhubungan sudah memberikan sanksi kepada Lion

4

•

Maret 2015

Air yaitu memberikan surat peringatan dan pembekuan izin rute baru hingga maskapai penerbangan itu bisa memaparkan standar penanganan krisis. Namun nampaknya masyarakat belum puas dengan sikap Kementerian Perhubungan, hal itu terlihat dari lambannya respon pemerintah dalam menangani seringnya delay Lion Air. Pengamat penerbangan yang sekaligus Chairman of CSE Aviation Commisioner, Samudera Sukardi menuturkan, melihat peristiwa seperti kemarin kita bisa melihat Lion Air memang seperti tidak memiliki Standard Operating Procedure (SOP) mengatasi penumpang dalam keterlambatan penerbangan (delay). Untuk itu perlu dilakukan audit, baik itu secara internal oleh Lion Air dan juga oleh pemerintah melalui Kementerian Perhubungan. Jika ditemukan ada SOP,

Kondisi penumpang yang terlantar di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta terminal 1B dikarenakan tertundanya beberapa jadwal penerbangan maskapai Lion Air hingga lebih dari 17 jam. (Foto: AVIASI/Eky Fajrin)

AVIASI/Eky Fajrin

perlu dilihat apakah masih update, dan dapat di implementasikan. Hal itu yang perlu ditelisik lebih dalam. Menurut Samudera, terjadi kesalahan operasional manajemen Lion Air sehingga permasalahan tersebut memberikan kesan manajemen Lion Air yang buruk dalam mengatasi keterlambatan. “Kejadian itu kalau saya lihat akibat dari kesalahan bagian

operasi manajemen Lion Air yang memang buruk, dalam hal ini bagian operasi kan meng-handle penumpang, namun mereka tidak bisa mengatasi persoalan di lapangan.� imbuhnya. “Untuk kedepannya saya berharap Lion Air dapat memperbaiki manajemennya, hal itu bisa dilakukan mulai dari memperbaiki on time performance (OTP) Lion Air, misalnya

Profile for epaper aviasi

Tabloid AVIASI Edisi 80 Maret 2015  

Aviation Is Our Passion

Tabloid AVIASI Edisi 80 Maret 2015  

Aviation Is Our Passion

Advertisement